Pentingnya Pembukuan dalam Bisnis

MAJALAHSEKAR.COM --Pembukuan? Mungkin kata ini paling “menakutkan” bagi Anda yang baru merintis usaha. Bukan karena malas membuatnya, tapi lantaran rumit dan menyita waktu.

Itu pula yang dirasakan Dewi Syafriani, pemilik usaha makanan rendang bernama Dendang. Dulu, pada tahun 2010, awal-awal ia merintis usaha, Dewi selalu mencampur keuangan bisnis dan keuangan untuk keperluan rumah tangga.

Akibatnya, ia kesulitan memisahkan mana uang pribadi dan mana uang untuk bisnis. Walaupun semua uang itu adalah miliknya. Namun, ia menjadi tak tahu jatah uang untuk keperluan rumah tangga.

Kasus seperti ini ia alami pada bulan Ramadan 2011, di saat bisnisnya sedang naik daun. Pesanan meningkat mencapai 300 kg. “Para pembeli mentransfer uang mereka dengan jumlah yang besar ke rekening saya. Saat itu saya merasa uang saya sangat banyak,” ceritanya.

Ketika ada anggota keluarga yang tengah membutuhkan sesuatu, Dewi tak segan-segan membantu dan membelikan kebutuhan keluarga tersebut. “Karena saya berpikir saat itu uang saya banyak,” katanya. Ditambah lagi, saat Lebaran ia pulang kampung menggunakan uang yang ada di rekening tersebut. “Setelah Lebaran baru terasa, ternyata uang saya habis dan tak tersisa,” katanya.

Yang membuat ia kesal, Dewi jadi tak tahu berapa keuntungan bisnis yang ia peroleh selama Ramadan tersebut. “Mungkin karena uang itu dicampur jadi pengeluaran saya tak terkontrol,” sambungnya. Dari situ ia menjadi mengerti, bahwa pembukuan dan mengatur keuangan di dunia bisnis sangat penting.

Menurut Dewi, pembukuan semata-mata untuk memastikan besarnya keuntungan dalam berbisnis. Melalui pembukuan juga kita bisa tahu, keuntungan bisnis itu akan digunakan untuk apa saja, bisa menambah modal atau membeli stok barang yang diperlukan dalam berbisnis.

Dari pengalaman Dewi, akibat buruk yang ia rasakan adalah, barang-barang untuk kebutuhan bisnis yang seharusnya sudah bisa dibeli terpaksa diundur. “Saya baru bisa membeli kulkas dua pintu, lemari pendingin daging, lemari showcase, dan tungkus penggorengan setelah dua tahun berbisnis,” ceritanya.

Dewi punya tip. “Setelah pengalaman buruk itu saya harus rajin mencatat pengeluaran dan pemasukan. Uang untuk belanja keperluan bisnis saya masukkan ke amplop yang beda dengan belanja sehari-hari, tadinya sama. Buku tabungan yang tadinya digabung, mulai saya pisahkan,” katanya.

Namun, Dewi tak memungkiri kendala paling sering dirasakan oleh pengusaha baru adalah, malas menulis hal-hal kecil seperti pembukuan. Misalnya, harus menulis berapa membeli cabai, biaya menggiling cabai, dan lain-lain. “Tapi hal itu harus dilawan dan dikerjakan,” katanya.

Hal serupa juga diakui Dian Eka Safitri, pemilik Palem Cookies. Menurutnya, pembukuan adalah hal wajib dilakukan, “Apalagi oleh orang yang berbisnis,” katanya. Ketika bisnisnya awal berdiri, Fitri langsung membuat pembukuan dan produksi sendiri. Ternyata cara ini sangat menyulitkannya. “Semua jadi keteteran,” akunya.

Menurut Fitri, ketika kita memulai bisnis, berarti harus ada pembagian tugas secara proporsional. Walaupun usaha itu milik pribadi, bukan usaha bersama. Fitri menceritakan pengalamannya. Selain pembukuan, ia juga membagi-bagi tugas dengan sang suami dan saudaranya. “Suami saya bagian pengiriman dan pengecekan barang, sedangkan saudara saya fokus pada pembukuan,” jelasnya.

Selain itu, ia juga acap melakukan rapat setiap minggu. Dalam rapat itu, ia dan suami akan membahas apa saja target yang akan dicapai. “Semua dilakukan secara profesional,” kata perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Dengan pengaturan seperti itu, bisnisnya terasa lebih lancar. Dengan adanya pembukuan, ia merasakan manfaatnya karena tahu berapa besar keuntungan dari bisnisnya ini. Contohnya, Lebaran tahun 2011 laku 7.500 stoples, dan semua itu ia catat jelas di pembukuan. “Tahun ini target penjualan pun meningkat, yakni 12.000 stoples. Dari situ pula saya bisa melihat keuntungan bersih dari kerja keras tersebut,” kata perempuan yang sudah bisa membeli rumah dari bisnisnya.

Cara Mengatur Keuangan dan Pembukuan ala Dian Eka Safitri
  • Jangan pernah malas mencatat hal-hal kecil dalam bisnis. Baik itu pengeluaran maupun pendapatan
  • Bila tidak bisa melakukannya, pilihlah orang yang dapat dipercaya. Misal, saudara atau keluarga. Walau sudah didegelasikan, Anda tetap harus membuat jadwal bertemu dengannya. Usahakan Anda tahu laporan pengeluaran dan pendapatan itu setiap hari.
  • Jangan menggunakan uang yang dialokasikan untuk bisnis. Pakailah uang operasional.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar