MEA 2015, Berkah atau Musibah..?

Diantara kita mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa negara kita sedang menuju pintu gerbang Masyarakat Ekonomi Asean 2015. Ketidaktahuan tersebut karena memang MAE 2015 belum tersosialisasikan dengan baik ke masyarakat.

Masyarakat Ekonomi Asean merupakan sebuah kesepakatan antar negara-negara yang ada di Asean untuk membentuk sebuah komunitas bersama seperti halnya Uni Eropa. Lantas hal-hal apa saja yang menjadi point penting dari MEA 2015? Kenyataanya masyarakat belum banyak tahu tentang hal ini.
Dengan diberlakunya MEA 2015, berarti pintu gerbang perdagangan bebas antar negara se Asean akan dibuka seluas-luasnya. Barang dan jasa bebas keluar masuk dari negara satu ke negara lainnya di kawasan Asean tanpa harus melalui pajak ataupun hambatan lainnya. Seperti teko dengan isi peluh yang dibalik, maka airnya akan tumpah lancar. Begitulah dengan MEA 2015, barang dan jasa bebas keluar masuk.

Bukan hanya barang dan jasa saja yang bebas keluar masuk suatu negara di kawasan Asean, manusianya (SDM) pun akan dengan bebas keluar masuk dari negara satu ke negara lain tanpa hatus mengurus visa dll.

Dampak dari MEA 2015
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, sekitar lebih dari 40% penduduk Asean ada di Indonesia. Dengan jumalah penduduk sebesar itu maka Indonesia merupakan pasar yang sangat empuk.


Dengan bebasnya suatu barang dan jasa serta manusia (tenaga kerja) keluar masuk ke suatu negara (dalam hal ini Indonesia) maka barang-barang impor dari negara tetangga akan membanjiri pasar-pasar di dalam negeri. Pun dengan manusianya, tenaga kerja dari negara lain bebas keluar masuk ke Indonesia.

Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap produk dan jasa dalam negeri kita, terutama terhadap produk KUMKM. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa, kualitas dari produk serta SDM KUMKM Indonesia sangat jauh dari harapan.

Jika produk luar negeri (negara Asean) membanjiri pasar dalam negeri, produk dari KUMKM kita bisa kalah bersaing dengan produk dari negara tetangga. Pun faktanya bahwa kualitas produk dari luar jauh lebih bagus dan harga yang cenderung murah.

Sebagaimana kita ketahui bersama, karakteristik konsumen Indonesia sebagian besar merupakan konsumen dengan pilihan harga murah kualitas lumayan. Sehingga bisa jadi produk-produk dari negeri tetangga akan menjadi pilihan mereka.

Apa yang Harus Dilakukan..?
Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan langkah bijak yang harus ditempuh. Dengan SDM yang tinggi diharapkan mampu membuat produk dan jasa serta layanan yang sesuai dengan apa yang diharapkan konaumen. Tujuannya tidak lain adalah mampu menarik masyarakat guna menggunakan produk atau jasa tersebut.


Dengan SDM yang tinggi, inovasi produk mampu diciptakan dengan baik. Produk yang hadir di tengah masyarakat tidak lagi monoton. Masyarakat memiliki alternatif pilihan produk untuk digunakan. Dan itu semua merupakan produk KUMKM.

Membangun sinergitas antar sesama KUMKM. Hal ini bertujuan saling menguatkan antar pelaku KUMKM. Dengan sinergi, jaringan produksi, distribusi, serta pemasaran produk KUMKM akan semakin kuat. Semisal antara pemilik toko dengan perajin makanan, perajin makanan dapat menyuplai produknya ke toko tersebut, sedangkan toko menerima manfaat mempunyai penyuplay tetap.

Selain sinergitas antar pelaku KUMKM, hal yang lebih penting adalah mwnyadarkan masyarakat akan pentinganya mencintai produk-produk dalam negeri. Selain mencintai, kesadaran untuk membeli dan menggunakan produk-produk dalam negeri mampu memenangkan persaingan di MEA 2015. Produk dalam negeri mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar