Edisi Kenapa Saya Pilih Jokowi Part 1

Apa yang ditawarkan kedua capres dan cawapres semuanya baik. Beliau-beliau berbicara mengenai ekonomi kerakyatan, bagaimana menjadi negara yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing. Semuanya bagus.
Namun bagus saja belum cukup menurut hemat saya. Coba kita lihat rekam jejak kedua calon pasangan presiden dan wakil presiden. Untuk pasangan calon nomor urut 1, Prabowo-Hata. Apa yang beliau  canangkan (memang baik) namun menurut hemat tak jauh dari sebuah retorika untuk mengambil simpati. Betapa tidak, mari kita lihat rekam jejak dari pasangan nomor urut satu ini.
Prabowo Subianto, berasal dari militer (dan maaf tidak sampai pada usia purna tugas beliau diberhentikan). Terlepas siapa yang salah (atasan atau bawahan) saya pikir Prabowo punya kewijiban untuk menuntaskan polemik 1998. Kenapa harus beliau, karna saya pikir kuncinya ada di beliau.
Kasus 98 masih menyisakan banyak misteri. Ada 23 orang diculik, 9 mengaku disiksa, 13 belum kembali, dan 1 mati ditembak. Beberapa korban yang kembali pernah bertemu korban yang masih hilang di markas Kopassus Cijantung. Sehingga Prabowo tidak serta merta terlepas dari keterkaitan kasus korban yang masih hilang.

Kasus ini belum selesai, Prabowo belum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah oleh pengadilan karena pengadilan untuk kasus ini tidak kunjung dilakukan. Sejak 1998, 3 lembaga negara antara lain Dewan Kehormatan Perwira (DKP), Tim Ad Hoc Komnas HAM, dan Tim Gabungan Pencari Fakta, sudah melakukan penyelidikan dan menemukan keterlibatan Prabowo dalam kasus penculikan 1998 tersebut. Dalam penyelidikannya, tahun 2005-2006 Tim Ad Hoc Komnas HAM memanggil Prabowo untuk bersaksi, namun ia mangkir tak pernah memenuhi panggilan. Tahun 2006, dibantu DPR, Komnas HAM mengajukan pengadilan kasus ini ke Jaksa Agung. Namun hingga detik ini, pengadilan kasus ini belum juga disetujui. Jadi sekali lagi, belum ada pengadilan untuk kasus ini. Maka belum
ada kejelasan hukum mengenai status Prabowo bersalah atau tidak bersalah. Dan dalam hal ini, baiknya Prabowo menginisiasi penyelesaian kasus ini. Terlepas dari siapa yang salah.


Pak Hatarajasa, 15th ada di pemerintahan. Hasil yang dicapai beliau saya pikir banyak, namun maaf yang langsung berdampak kepada masyarakat bawah maaf, #belumada. 15th di pemerintahan adalah waktu yang cukup lama, cukup buat membuat gebrakan demi kemakmuran rakyat, apa lagi dalam dekade terahir beliau menduduki jabatan yang lupayan penting. Dan harusnya lagi, apa yang dikritik Prabowo mengenai kebocoron mampu beliau antisipasi.

Mengenai pasangan nomer urut 2. Saya mulai dari Jusuf Kala. Jusuf Kala memang menjadi bagian dari pemerintahan SBY selama 5th dan pemerintahan Mega wati 5th, namun prestasi dari beliau dalam hemat saya cukup baik, meskipun masih banyak kurangnya. Dalam 5th terahir pemerintahan bersama SBY, Jusuf Kala yang menjadi the realpresiden. Gebrakan-gebrakan beliau cukup menjanjikan. Mualai dari konversi minyak tanah ke gas meski banyak kritikan sana sini sampai ke terwujudnya perdamaian di Aceh.

Disisi lain, sebenarnya Jusuf Kala bukanlah manusia yang sempurna. Dalam dekade pemerintahan bersama SBY, Jusuf Kala cenderung agak mementingkan bisnisnya. Banyak kabar yang menyebutkan selama dalam pemerintahannya, Perusahaan keluarganya berkembang sangat pesat. Mungkin saja bisa dari pengaruh jabatan yang beliau pegang. Di luar itu, saya cukup mengapresiasi gebrakan-gebrakan beliau.

Joko Widodo, tidak sedikit orang yang menilai apa yang beliau kerjakan adalah pencitraan. Namun terlepas dari pencitraan atau bukan, Jokowi sudah bekerja untuk rakyat. Coba kita tengok ke rekam jejaknya.

Jokowi telah memimpin Kota Solo dengan baik. Kalo tidak baik, mengapa rakyat Solo menyanjung dan menghormatinya

hingga sekarang? Bahkan pada periode kedua beliau memimpin Solo, secara mutlak lebih dari 90% masyarakat Solo memilihnya. Kalau tidak berhasil memimpin Solo saya rasa tidak akan kepilih, kalaupun menang tidak semutlak itu. Bahkan masyarakat Solo mendukungnya untuk menjadi presiden? 

Kalo tidak baik, mengapa sejak dahulu kita sudah mendengar nama Jokowi walaupun ia hanya seorang walikota? Nama besar Jokowi baru muncul pada tahun 2011, di acara Provocative Proactive yang dipandu oleh Pandji Pragiwaksono. Acara ini adalah sebuah acara remaja yang membahas politik. Di kesempatan itu Pandji menyebut Jokowi sebagai seorang walikota yang hebat. Beberapa bulan kemudian banyak sekali berita baik mengenai kinerjanya.

Selama memimpin jakarta, banyak perubahan berarti yang beliau kejakan, seperti pembangunan MRT yang tidak tahu kapan mau dieksekusi, sama Jokowi mulai dieksekusi. Penertiban Tanah Abang, berpuluh tahun tanah abang tidak beres, dari berganti pimpinan militer dan sipil tetep saja tidak berea, dalam waktu tidak lama Jokowi mampu membereskannya. Bukan hanya itu, pengobatan geratis, pendidikan geratis juga bisa terwujud di jakarta meskipun masih banyak masalah sana sini. Ini adalah wujud kerja dari Jokowi.

Jauh sebelum kata 'pencitraan' melekat pada dirinya, Jokowi telah bekerja untuk rakyat. Bekerja untuk rakyat di Solo. Mampu mewujudkan solo sebagai kota barometer kebudayaan dan pariwisata. Jauh sebelum media meliput besar-besaran, beliau sudah membuktikan dengan terpilih diatas 90% dalam pemilu periode dua walikota solo. Tanpa berkampanye.

Pasangan nomor urut 2, JokowiJK memang tidak sempurnya. Naif kalau saya pun berharap berlebih pada keduanya. Dan saya cukup logis kalau mereka berdua tidak akan menyelesaikan semua masalah Indonesia. Namun dalam hal ini, Saya cukup Optimis beliau berdua mampu mengurai dan mewujudkan Indonesia Baru.
#salamduajari

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar