Menanti Revolusi Mental Entrepreneurship Bagi Pelaku UMKM

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau yang sering disebut UMKM merupakan usaha yang paling kuat menghadapi berbagai kondisi ekonomi. Mau dalam kondisi ekonomi yang bagus maupun dalam kondisi krisis yang akut UMKM mampu bertahan dengan baik.

Seperti kita ketahui bersama bahwa UMKM merupakan penyumbang terbesar pendapatan negara kita. Lebih dari 52% pendapatan negara mampu dihasilkan dari sektor UMKM. Melihat potensi UMKM yang sangat besar tersebut patut sekiranya pemerintah baik pusat maupun daerah untuk selalu mensuport perkembangan UMKM.

UMKM yang merupakan penyumbang lebih dari setengah pendapatan negara tidak begitu saja serta merta berjalan mulus dalam aktifitas usahanya. Banyak sekali kendala yang dihadapi oleh UMKM, mualai dari aspek SDM, Managemen, Keuangan maupun Permodalan. Tidak sedikit pula pelaku UMKM yang sempat gulung tikar. Namun karena memang sifatnya yang fleksibel, hari ini gulung tikar, esok sudah buka usaha lainnya lagi. Disisi lain, tentunya ada beberapa UMKM yang sukses menjadi pengusaha besar tentunya.

Diantara kita semua mungkin ada yang bertanya mengenai peranan pemerintah dalam mendukung UMKM. Tentu jawabannya akan banyak sesui dengan kacamata mana kita memandangnya. Kalau dalam kacamata saya, saya memandang bahwa dukungan pemerintah terhadap UMKM tifak kurang-kurang. Banyak kegiatan dan proyek yang dikerjakan pemerintah dalam upaya memajukan UMKM. Namun memang, dalam hemat saya apa yang sudah dikerjakan pemerintah dalam pembangunan UMKM masih belum maksimal sehingga belum mampu mewujudkan UMKM Naik Kelas.

Beberapa hari yang lalu saya sempat berbincang dengan salah satu pelaku UMKM, sempat saya ulas pada artikel sebelum ini. Pada intinya begini. Kenapa dengan begitu banyaknya suport dari pemerintah namun tidak bisa membuat UMKM Naik Kelas. Rakan saya dengan entengnya menjawab, 'kebanyakan pelaku UMKM bermental geratisan. Tidak punya karakter'.

Betapa tidak, setiap kegiatan pelatiham yang diadakan pemerintah dalam upaya memajukan UMKM banyak dari mereka hanya berorientasi materi. Ingin mendapatkan hibah, dapat fasilitas pameran geratis, dapat uang saku dll. Hal inilah yang menurut hemat kami merupakan penyebab UMKM gagal naik kelas.

Pola pikir UMKM tidak terbangun dengan baik, mereka cenderung mengharapkan bantuan dan bantuan dari pemerintah. Berbeda dengan pelaku UMKM yang berkenan mengeluarkan dana guna meningkatkan kapasitasnya. Semisal Pak Ahmad (sebut saja namanya demikian) mengikuti pelatiha peningkatan kapasitas managemen usaha dengan membayar 3jt. Maka pak Agus akan cenderung berfikir bisnis, bagaimana dari uang yang dia infestasikan ke pelathian mampuenghasilkan lebih dari nilai investasinya. Dan tentunya keuntungan yang pak Agus inginkan.

Mengubah pola pikir UMKM yang tadinya bermental geratisan ke UMKM yang bermental Pengusaha tidaklah mudah tentunya. Dibutuhkan usaha yang ekstra dari seluruh elemen bangsa, atau mungkin lebih tepatnya UMKM harus diRevolusi Mental Entrepreneurnya. Seiring dengan akan dilantiknya presiden Indonesia yang baru, Jokowi-JK yang memang mengusung jargon Revolusi Metal, patut kita tunggu gebrakannya dalam hal pembangunan UMKM. Seperti apakah Revolusi Mental yang hendak dijalankan ke UMKM. Mari kita lihat sepak terjang beliau. +bossmalas

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar