Simpel, Input Kecil Output Besar dan Realisasi Mudah, Syarat dari Business Plan yang Baik

Sabtu pagi, 8 November 2014 tepatnya jam 10.00 WIB saya menjadi salah satu juri di kompetisi Business Plan (BP) FE UNY berasama rekan saya Annas Setiawan Prabowo serta Bpk Puji. Kehadiran saya sebagai dewan juri penilai kompetisi BP karena memang jauh hari sebelum pelaksanaan panitian mengundang kami melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT-KUMKM) DI Yogyakarta.
Di hari yang sama, rupanya undangan untuk mengisi kegiatan kewirausahaan di Kampus rupanya cukup banyak, sehingga teman-teman konsultan harus dibagi untuk menghadirinya. Dan kebetulan saya serta serta rekan, Annas Setiawan Prabowo berkesempatan menghadiri kegiatan di FE UNY.

Penialaian kompetisi BP kemarin adalah tahap babak final, dimana hanya tujuh perseta/tim yang harus mempresentasikan ide bisnisnya di hadapan dewan juri. Beberapa ide bisnis tersebut diantaranya ada Coklat bubuk dari Mahasiswa IPD, kerajinan limbah lamtoro dari Unram Lombok, ada burger Mie dari Udinus Semarang, ada kebab padang dari Unibraw Malang, ada sepatu muliti fungsi dari ITS, ada kampung jamur dari Institut Teknologi Telkom Bandung, dan Getuk Instan dari Undip Semarang.

Dari ke tujuh ide bisnis tersebut, kesemuanya cukup kreatif. Namun ada beberapa yang kami anggap mempunyai nilai lebih dibandingkan yang lainnya. Kebab Padang, menyuguhkan inovasi produk kebab dengan cita rasa khas Indonesia. Dimana nasi padang yang cukup terkenal dan tersebar di hampir seluruh Indonesia diinovasikan menjadi makanan yang cukup digemari saat ini, kebab. Cukup sederhana, hanya nasi padang seperti biasanya di lilit dengan lilitan kebab lantas dibakar. Jadilah kebab padang yang nikmat.

Hanya mwnggunakan modal tidak lebih dari 10jt, kebab padang sudah bisa dijalankan. Dengan mengusung konsep gerobak, maka bisnis ini tidak memerlukan modal yang terlalu besar. Pangsa pasar dari nasi padang cukup besar, dan para penikmat nasi padang inilah yang menjadi sasaran pasar dari kebab padang. Harga yang murah menjadi strategi khusus guna menarik konsumen untuk menikmatinya.

Coklat Bubuk Toyba Choco, sebagai negara penghasil cacao, rupanya Indonesia belum mempunyai produk coklat bubuk yang asli produk dalam negeri. Pasar coklat bubuk sebagai minuman di Indonesia masih dikuasi oleh perusahaan asing. Berawal dari kondisi tersebutlah beberapa mahasiswa IPB mengeluarkan coklat bubuk Toyba Choco.

Sebagai penikmat coklat, tentunya saya sangat senang dengan produk teman-teman IPB ini. Dengan berbagai varian kekentalan, mereka berusaha menyuguhkan coklat sebagai minuman sesuai dengan kesukaan dari konsumen. Konsumen bisa memilih varian mana yang akan mereka konsumsi.

Dari sampel produk yang diberikan ke saya, coklat teman-teman IPB sangat nikmat. Tidak kalah dengan merek-merek terkenal semacam Catbury dll. Yang menjadi pembedanya adalah ini produk coklat bubuk asli Indonesia. Dengan harga yang cukup murah, produk ini saya yakini akan cepat diterima para penikmat coklat di Indonesia.

Sepatu multi fungsi SUEShoes, mengankat inovasi di bidang persepatuan, beberapa mahasiswa ITS ini beeusaha menyuguhkan produk sepatu yang beda dengan sepatu lainnya. Betapa tidak, satu sepatu bisa berfungsi menjadi sepatu itu sendiri, sandal, serta matol sepatu.

Dari sekian sepatu yang pernah saya jumpai, baru kali ini saya menenukan sepatu dengan konsep unik. Meskipun masih dalam tataran konsep dan masih perlu banyak penyempurnaan, namun SUEShoes memiliki kekuatan pasar sendiri.

Jika dikelola dengan baik, produk sepatu multi fungsi SUEShoes saya yakin akan menjadi kekuatan bisnis di bidangnya. Seperti halnya dalam blue ocean strategy, dalam persaingan yang cukup ketat, maka ciptakanlah pembeda dari yang sudah ada. Dia tidak akan bersaing dengan produk yang telah ada, namun akan memiliki konsumen tersendiri. Dan SUEShoes saya rasa mampu mewujudkan ini.

Konsep bisnis unik yang terahir menunur saya adalah Getuk Instan G-thuxs. Mencoba mengangkat salah satu makanan tradisional Indonesia, beberapa mahasiswa keilmuan Gizi Undip mencoba menyuguhkan geduk yang berbeda. Getuk instan, karena memang getuk ini tidak bisa langsung dimakan, namun harus dikukus terlebih dahulu baru bisa dimakan. Dari sisi ketahanan, getuk ini mampu bertahan dalam jangka waktu 30 hari. Sehingga kedepannya mampu menjadi komoditi tersendiri.

Selain unik, getuk instan sangat mudah direalisasikan menjadi model bisnis yang baik. Biaya investasi yang diperlukan tidaklah besar, tidak lebih dari lima juta, dan mempunyaibpeluang output yang sangat besar. Jika dikelola dengan baik, kedepannya bisnis ini akan mampu menjadi binis runahan yang sukses.

Dari penilaian saya di seluruh proposal bisnis yang ada, belum ada proposal yang menurut saya cukup baik. Para peserta masih telalu banyak membuat terjemahan konsep menjadi kaka-kata sehingga proposal menjadi banyak isinya.

Sebagai sebuah proposal bisnis, saya rasa tidak perlu terlalu melebar membahas ini itu, simpel saja. Tunjukan idenya, gali konsepnya, tunjukan input dan outputnya. Jika hanya dalam beberapa lembar saja, tidak perlu berpuluh-puluh lembar dalam menyajikan proposal bisnis.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar