Membangun Mental "Kaya"

Pagi tadi, seperti biasanya saya mengantar istri belanja di warung sayuran langganan, tidak jauh dari komplek tempat kami tinggal, tepatnya sekitar 500 meter dari komplek ke arah keluar gang. Tak ada yang sepesial tentunya rutinitas harian sebelum berangkat ke kantor, pun aktifitas istri belanja. Memilih dan memilah sayuran apa yang sekiranya ingin dimasak hari ini. Tampak agak lama memang istri memilih sayuran, kondisinya yang lagi nyidam membuatnya selektif memilih bahan makanan yang akan dimasak. Kebetulan istri termasuk sangat sensitif di awal kehamilannya, bau-bauan atau makanan yang mengandung gas sedikit saja bisa menyebabkan muntah berat. Mau tidak mau ya mesti selektif memilih bahan sayuran yang akan dimasak.

Seperti hari sebelumnya, saat istri asik memilih belanjaan apa saja yang mau dibawa pulang, saya lebih senang menunggunya di atas motor di pinggir jalan sambil melihat lalu lalang orang lewat. Kondisi gang/jalan masuk ke komplek salah satu dari dua jalan akses ke komplek yang cukup lebar sehingga banyak warga komplek maupun kampung sekitar lebih memilih jalan ini di bandingkan jalan yang satunya. Akses masuk jalan yang satunya cenderung lebih sempit dan melewati jembatan gantung yang sempit, orang komplek sih sering menyebut jembatan tersebut dengan sebutan jembatan "merah", karena warnya jembatan tersebut memang merah. Akses jalan yang sempit membuat jalan ini tidak bisa dilewati oleh kendaraan roda empat, sehingga banyak warga yang memilih jalan yang satunya. Mau tidak mau jalan yang ada warung sayuran di gang masuk ini cukup ramai dilalui warga komplek maupun kampung baik menuju komplek maupun keluar komplek.

Sambil duduk di atas motor metik, saya mengamati sekitar. Tak sengaja mata saya memandang ke arah seorang kakek tua yang mungkin sedang berolahraga. Terlihat dari pakaiannya yang menggunakan kaos di bagian atas, training panjang di bagian bawah, dan sepatu ket putih dikenakan dikakinya, tak lupa juga membawa handuk kecil berwarna putih yang ditaruk di pundaknya. Saya menyimpulkan bahwa si kakek habis berolahraga atau hanya sekedar jalan-jalan pagi. 

Cukup asing si kakek buat saya, karena memang saya belum mengenalnya. Ya mungkin karena si kakek warga kampung sekitar komplek sehingga saya tidak mengenalnya. Atau mungkin si kakek merupakan warga komplek yang beda RT dengan saya sehingga saya tidak mengenalnya. Atau bahkan mungkin saya yang tidak banyak keluar ke kampung atau lingkungan komplek sehingga saya tidak mengenalnya. Entahlah.

Lewah persis di bedan saya si kakek jalan menuju arah komplek. Sekitar sepuluh meter si kakek jalan dari titik saya menunggu istri belanja, datanglah seorang kakek yang lain dari arah yang berlawanan dengan mengendarai sepeda. Si kakek yang mengendarai sepeda memanggil si kakek yang berolahraga tadi. Mungkin beliau berdua saling berteman. Tampak si kakek yang sedang berolahraga tadi menggampiri kakek yang membawa sepeda. Ada sedikit percakapan ringan saling menanyakan kabar dan dari dan mau kemana. Tidak lama bercakapria, si kakek yang memakai pakaian olahraga tadi merogo saku celana sebelah kiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Diambilkannyalah si kakek yang membawa sepeda tadi satu lembar, entar nilai berapaan saya tidak tahu.

Tidak ada yang spesial sih sebenarnya. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu menggendong anak mungkin di bawah dua tahun dan satu orang perempuan muda keluar dari warung yang menyediakan bahan sayuran tadi. Bisik-bisik kedua perempuan yang mungkin ibu dan anak tadi mengenai si kakek yang berpakaian olah raga. Tidak sengaja mendengar sebenarnya, si ibu-ibu berbicara "Tuh lihat si mbah bib sedang bagi-bagi duit lagi, sini bib kita dikasih." 

Mendengar percakapan kedua wanita tadi, saya menyimpulkan bahwa si kakeh berpakaian olah raga tadi memang sering melakukan hal serupa, bagi-bagi uang dipagi hari. Lantas saya teringat, oh hari ini adalah hari jumat, waktu yang paling bagus untuk bersedekah. Banyak orang bilang "Jumat berkah Jumat sedekah". Pantas saja si kakek tadi bagi-bagi duit.

Pada dasarnya, bukan masalah hari Jumat-nya buat saya, karakter murah rejeki dan mau berbagi itulah yang menjadi point penting dari seorang kakek berbaju olah raga itu.  Tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Kecenderungan orang malah maunya dikasih. Jika ada segala sesuatu yang ujung-ujungnya dikasih pasti banyak orang antri. Jika diajak untuk berbagi maka sedikit yang mau melakukannya. Apalagi jika ada program bantuan atau hibah dari pemerintah, maka banyak orang berlomba dan berdesak-desakan mengantri untuk mendapatkannya.

"Tangan di atas lebih baik dibandingkan dengan tangan di bawah" begitulah agama mengajarkan, namun miris, belum banyak yang mampu mengamalkan ini. Banyak orang yang memilih menjadi "tangan di bawah" dibandingkan "tangan di atas". Entah apa alasanya, ada yang mengatakan saya tidak mampu, saya miskin, saya tidak punya, buat makan aja susah apalagi buat kasih orang lain. Entahlah, saya pun tidak tahu mana alasan sebenarnya.

Dalam ajaran agama, saya yakin di semua agama pun mengajarkannya bahwa kita dianjurkan untuk memberi, tidak takut untuk berbagi rejeki. Bahkan di kitab suci dijelaskan bawa jika kita memberi satu bagian maka akan dibawas dengan berkalilipat. Itu pasti, janji Allah! Saat kita memberi pada dasarnya kita menerima. Tidak ada dasarnya ketika kita memberi kita akan kehilangan. Justru dengan memberi kita akan mendapatkan yang lebih banyak lagi. Itu janji dari Allah secara langsung.

Kalau kita merujuk dalam ilmu The Secret, pada saat kita memberi di saat yang samalah kita akan merasa puas secara batin bahwa kita mampu memberi. Di sisi lain, pasa saat kita memberi, di bawah alam sadar kita akan terpola "Saya mampu memberi", "Saya dermawan", "Saya kaya". Jika hal tersebut berlangsung secara berulang-ulang maka pikiran bawah sadar kita akan menarik hal tersebut menjadi nyata. Semesta akan mendukung kita untuk mewujudkan pikiran bawah sadar tersebut. Itulah yang dinamakan hukum tari-menarik, The Screet.

Siapkah kita memberi?

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar