Mau Toko Jadi Ramai? Berikut Tips dari Ibu Pamella

Selasa lalu, 30 Juni 2015, saya berkesempatan mengikuti kelasnya ibu Noor Liesnani Pamella, pemilik Pamella Group. Kebetulan beliau kami undang sebagai narasumber di event ke tiga kegiatan Buka Bareng Bisnis "Puasa Jalan Terus Omset Naik Terus" Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT-KUMKM) DI Yogyakarta. Sehingga secara tidak langsung saya ikut mendengarkan beliau menceritakan perjuangannya dalam membangun bisnis Pamella Group.

Siapa yang nanya, bisnis swalayan dan supermarket yang saat ini ada 7 cabang awalnya beliau bangun hanya dari kios sembako kecil saja. Wanita yang tidak menamatkan pendidikan sekolah menengah atasnya karena fokus membantu ibunya ini menceritakan bahwa banyak tantangan yang beliau hadapi dalam membangun bisnis.

Awalnya, kios yang berukuran 5 x 5 meter pesegi yang masih disekat setengahnya lagi untuk tempat tidur ini hanya menggunakan peralatan seadanya dalam berdagang. "Membuka usaha kios sembako pada saat itu sulitnya bukan main" tutur ibu Pamella. Terlebih lagi pada saat itu orang cenderung belanja kebutuhan sehari-hari langsung ke pasar, beliau menambahkan.

Tak kehabisan akal, Pamella muda yang memang sering keluar kota untuk mengunjungi keluarga ini lantas teringat sesuatu. Pada saat berada di luar kota, untuk mencari rumah makan yang enak cirinya cuma satu. Beliau mencari rumah makan yang kelihatannya rame. Banyak pengunjungannya. Rumah makan yang ramai oleh pengunjung bisa dipastikan bahwa rumah makan tersebut pasti recomended.
Hal ini beliau terapkan dalam bisnis kios sembakonya. Bagaimana caranya biar kios yang sempit itu bisa ramai. Kios yang awalnya berjualan kebutuhan rumah tangga ini ahirnya menyediakan barang-barang lainnya, seperti layang-layang, kelereng, dan mainan anak-anak lainnya.

Benar saja apa yang Pamella muda lakukan, dengan menyediakan mainan anak maka secara tidak langsung mengundang orang tua untuk datang juga ke kios. Orang tua yang awalnya ingin membelikan anaknya mainan jadi mengetahui bahwa di kios tersebut ada juga kebutuhan pokok mulai dari beras, minyak goreng, gula dan lain sebagainya. Dan berhasil, orang tua dari anak ahirnya mau benja kebutuhan pokok di kios Pamella muda.

Tidak berhenti di situ, menyediakan mainan anak saja tidak cukup mengundang banyak orang. Pamella muda pun terus memutar otak. Buka fotocopy-an. Ya, mesin fotocopy yang pada saat itu baru ramai-ramainya dimanfaatkan Pamella muda untuk menarik konsumen datang ke kiosnya. Di letakannya fotocopy di depan kiosnya, maka ramailah orang berkunjung untuk memfotocopy.

Tampak dari luar, kios sembaku tadi jadi semakin ramai. Melihat kios sembako yang ramai didatangi orang membuat orang berpikir bahwa di kios tersebut pasti sembakonya mudah dan berkualitas. Padahal mereka tidak tahu bahwa yang meramaikan kios tersebut adalah mesin fotocopy. Mulailah orang berduyun-duyun datang ke kios untuk belanja sembako.

Kecerdikan Pamella muda tidak berhenti di situ. Beliau masih melihat celah guna mendatangkan orang ke kiosnya. Berjualan musiman. Ya, Pamella muda juga menggunakan strategi jualan musiman. Semisal musim anak sekolah, maka di depan kiosnya bertumpuk kebutuhan-kebutuhan anak sekolah. Tidak berhenti di situ, kios yang Pamella uruspun menyediakan kaset-kaset setengah pakai yang masih layak dijual lagi.

Strategi sederhana ini beliau lakukan terus menerus hingga ahirnya kios yang tidak ada 5 x 5 meter persegipun ramai dikunjungi orang. Berkembang pesat, hingga sampai saat ini berkembang menjadi swalayan dan supermarket dengan 7 cabang di Jogja. Bahkan, kabar terahir, Pamella Group menempati top one penjualan terbanyak untuk kelas toko moderen. Bersaing dengan toko-toko moderen lainnya.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

2 komentar:

  1. keren ya bu Pamella, perlu disadap ilmu membuat toko jd ramai tersebut di artikel di atas. trims om... matur nuwun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siiiiaaapppp kang Ade, monggo-monggo :D

      Hapus