Ciptakan Nilai, Bangunlah Brand Anda!

Repost - Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT-KUMKM) DI Yogyakarta menggelar event Buka Bareng Bisnis, Selasa (23/6). Event perdana di bulan ramadhan ini mengangkat tema mengenai pentingnya membangun brand bagi UMKM. Luar biasa sekali antusias dari para pelaku UMKM mengikuti kegiatan ini, dari kuota yang disediakan panitia yang hanya 25 orang, namun peserta yang mengikuti di atas 30 orang. Hal ini bisa jadi disebabkan karena memang tema yang diangkat cukup menarik peserta untuk hadir, apalagi pada kesempatan kali ini PLUT-KUMKM DI Yogyakarta menghadirkan Coach Dewi Hadhy yang memang fokus dalam pengembangan brand.

Sangat menarik apa terjadi selama kegiatan berlangsung. Konsep acara yang oleh panitia diseting dengan metode talkshow, memungkinkan banyak peserta dapat berinteraksi langsung dengan narasumber. Banyak pertanyaan yang diajukan peserta kepada narasumber, mulai bagaimana upaya membangun branding bagi produk sampai ke hal teknis bagaimana membangun branding. Ada juga peserta yang mengungkapkan bahwa sebenarnya branding itu tidak penting bagi UMKM.

Menanggapi hal tersebut, Coach Dewi memberikan contoh bagaimana branding itu bekerja bagi UMKM. Menariknya, beliau mencontohkan tidak dengan menggunakan produk dari UMKM, namun langsung menunjuk saya sendiri dan rekan saya Yuli Afriyandi. Hehe,,,pasti bakal dikerjain ini, batin Saya. Awalnya memang enggan maju ke stage menuruti permintaan beliau, namun karena memakasa ahirnya kami berduapun menuju stage.

Benar saja apa yang saya prediksi sebelumnya, guna mengilustrasikan pentingya membangun branding bagi UMKM, kami berdua dijadikan contoh perbandingan. “Jadi kalau mas Boss ini orangnya gemuk, perutnya onepack :D, brewokan, pakaianya tidak rapi, dsb. Kalau mas Yuli ini kurus, pakaiannya rapi, dll. Kalau semisalnya Anda semua menjadi gadis, maka kira-kira pilihan Anda yang mana diantara ke duanya? Kalau saya sih akan milih milih mas Yuli dibandingkan dengan mas Boss. Karena mas Boss orangnya kaya gitu sih.” Beliau mengilustrasikan branding bagi UMKM dengan ketawa puas sudah mengerjai kami :D. Tak mau kalah, kami pun ikut ketawa lepas. Kena batunya neh, batin saya.

“Coba hal semacam ini Anda terapkan dalam produk. Kira-kira konsumen akan lebih tertarik yang mana? Antara produk yang dikemas menarik atau hanya sekedarnya? Dan bayangkan juga, kira-kira produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi produk mana? Produk yang sekedarnya atau produk yang dibranding dengan baik sehingga lebih menarik? Anda akan memilih produk yang menarik bukan? Nah begitulah branding itu bekertja.” Coach Dewi hadhy menekankan pernyataannya.

Sebagaimana pada saya artikel sebelumnya, saya pernah membahas mengenai branding produk bagi UMKM, kalau tidak salah judul artikelnya adalah “Bangunlah Branding, jangan Banyak Ciptakan Merek”. Pada artikel tersebut saya menuliskan bahwa branding adalah apa yang orang persepsikan mengenai sebuah produk di benak mereka. Seperti halnya yang terjadi pada salah satu merek pompa air, mungkin yang punya simbah di rumah sering bilang “Cu, tolong matiin Sanyonya!”, bahkan hampir semua orang menyebut pompa air dengan sebutan Sanyo, padahal pompa air yang ada di rumah sebenarnya mereknya bukan Sanyo, bisa jadi Sanken atau merek yang lainnya. Begitu melekatnya produk pompa airdengan merek Sanyo di benak konsumen, sampai-sampai orang mempersepsikan bahwa semua pompa air adalah Sanyo.

Apa yang terjadi pada Sanyo rupanya terjadi pula pada produk lain, seperti Aqua, Odol, Honda, dsb sebagaimana saya contohkan pada artikel saya sebelumnya. Point penting sebenarnya tidak terletak pada Sanyo, Aqua, Odol, maupun Honda-nya. Point pentingnya adalah bagaimana produk-produk tersebut mampu membangun branding yang kuat di mata konsumen. Itu! (Gaya Mario Teguh :D)

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan untuk membangun branding produk. Bisa jadi membangun branding tidak melulu harus mengeluarkan banyak uang untuk aktifitas mengenalkan produk ke orang lain, itu namanya adalah promosi. Bukan pula berlomba untuk mendapatkan konsumen paling banyak lantas produk kita mempunyai branding yang baik. Belum tentu juga! Untuk apa jika si konsumen tidak kembali lagi menggunakan produk, bahkan sedikitpun tidak pernah mengingat produk tersebut.
Membangun branding adalah bagaimana kita mampu menciptakan sebuah nilai pada produk. 

Maksudnya begini, bisa saja setiap produk mampu terjual, apapun produknya. Namun tidak setiap produk digunakan kembali oleh si pemakai karena memang si pemakai merasa tidak puas terhadap produk tersebut. Di sisi lain, ada sebuah produk yang mampu memikat hati konsumen sehingga si konsumen mau menggunakannya. Bukan saja sekali dua kali, namun berkali-kali, bahkan tidak mau pindah ke lain hati. Usut punya usut, rupanya si konsumen merasa sangat puas terhadap produk. Begitulah nilai dari sebuah produk bekerja dalam membangun branding.

Lantas apakah branding produk itu terbatas pada kepuasan pelanggan? Tidak juga! Branding bekerja membentuk persepsi konsumen terhadap produk. Jika konsumen mempersepsikan produk itu buruk, ya buruklah branding produk tersebut. Jika konsumen mempersepsikan produk itu baik maka baik pula branding dari produk tersebut. Efeknya, ketika orang sudah mempersepsikan produk itu baik, maka tanpa dibayarpun dengan senang hati orang tersebut akan menyebarkan ke yang lainnya.

Branding bekerja di luar lingkaran kita. Branding bekerja di benak orang lain/konsumen. Bukan ranah kita memaksa orang lain untuk mengakui bahwa produk kita baik. Namun nilai dari sebuah produklah yang ahirnya akan menciptakan persepsi produk tersebut di benak konsumenDi sanalah branding bekerja! Selamat membangun brand!

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar