Bela Beli Produk UMKM, Langkah Konkret Hadapi MEA 2016

 Oleh: Imam Syafi'i

Sebagaimana kita ketahui bersama, tahun 2015 sudah menapakan langkahnya lebih dari paruh pertama. Saat ini sudah awal bulan September, artinya hanya sekitar empat bulan lagi kita membuka pintu Masyarakat Ekonomi Asean. Dimana ketikan pintu ini dibuka maka siapapun bebas keluar masuk melalui pintu ini, pintu MEA.

Ibaratnya kita dalam perjalanan dari kota Jogja ke kabupaten Gunungkidul, lantas dilajutkan ke kabupaten Wonogiri, lantas ke kabupaten Pacitan, semuanya bebas tanpa hambatan. Kalaupun ada mungkin hanya lubang-lubang kecil di jalan karena memang jalan yang sudah rusak. Namun satu yang pasti, arus perpindahan kita dari kabupaten satu ke kabupaten lainnya bebas, dari provinsi satu ke provinsi lainnya pun bebas. Seperti itulah nanti ketikan pintu MEA sudah dibuka. Semua orang bebas keluar masuk dari negara satu ke negara lainnya dalam kawasan ASEAN.

Tidak hanya orang saja yang bebas keluar masuk suatu negara, negara yang tergabung dalam MEA pun diharamkan untuk mencegah dan menghalang-halangi arus perpindahan sebuah produk dan sebuah bisnis. Apa saja bebas keluar masuk. Artinya adalah era pasar bebas telah berlaku. Produk-produk masyarakat Indonesa akan terang-terangan langsung berhadapan dengan produk-produk dari negeri tetangga.

Takut..? Tentu banyak pihak yang menakutkannya. Bagaimana tidak, secara kualitas dan kapasitas sebenarnya masyarakat kita belum siap jika harus dihadapkan langsung dengan produk dari luar.

Gamang..? Yupss sudah pasti, bahkan pemerintahpun sebetulnya sangat gamang menghadapi MEA 2016. Mungkin sudah beribu seminar yang dilakukan untuk menghadapi MEA, namun belum banyak yang berbuah menjadi solusi bersama. Semuanya masih dalam koridor retorika.

Tahun 2016 sudah pasti akan menampakan hidungnya, hanya kurang sekitar empat bulan lagi. Mau tidak mau kita harus mau menerima kehadiran MEA. Siap tidak siap kita harus siap bersaing dengan produk luar. Lantas apa yang harus apa yang harus kita lakukan..?

Pada postingan sebelumnya yang bisa di baca di sini saya menerangkan bahwa, salah satu strategi kita menghadapi MEA adalah dengan membangun branding yang kuat pada produk. Konyol jadinya kita bisnis dengan menerapkan strategi perang harga. Sudah pasti KEOK. Soal produk murah, kita sudah kalah dari produk-produk cina. Kalau kita memaksakan diri memakai strategi itu, siap-siap lambat laun kita hanya akan jadi penonton saja.

Jual lebih mahal, itulah jalan yang paling realistis. Realistis untuk menggerakan roda bisnis usaha. Realistis untuk mencegah perusahaan dari kebangkrutan. Pertanyaannya adalah apakah bisa kita menjual produk kita dengan harga mahal? jawabannya adalah pasti bisa!

Langkah pertama adalah Strategi Branding produk. Buatlah produk solah dai menjadi ekspektasi yang bagus dimata calon konsumen. Berikan produk kepada konsumen dengan kualitas terbaik, dengan begitu konsumen mau membayar lebih mahal. Untuk lebih lengkpanya silahkan baca tulisan saya di link yang tadi.

Langkah kedua adalah menggerakan masyarakat Indonesia untuk "Bela dan Beli produk UMKM" atau sering saya sebut dengan strategi Pasar Berpihak. Lakukan kampanye "Bela dan Beli produk UMKM" secara masif dan bersama-sama sehingga masyarakat semakin sadar untuk membeli produk karya anak bangsa sendiri.

Kalau tidak kita yang membeli lantas mau siapa lagi yang akan membeli produk anak negeri, siapa yang akan membeli produk-produk UMKM kita. Satu-satunya orang yang bisa diharapkan membeli produk mereka adalah kita masyarakat Indonesia.

Mungkin ada yang tanya, kenapa masyarakat Indonesia harus membeli produk Indonesia? Bukankah produk dari luar negeri jauh lebih berkualitas? Jawabannya hanya satu, karena kita Indonesia. Yups, jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa menyebabkan negara kita menjadi negara dengan potensi pasar tertinggi di ASEAN, 2/3 penduduk Asean ada di Indonesia itulah mengapa kita menjadi pangsa pasar yang empuk di tahun 2016.

Produk luar negeri lebih baik dari produk dalam negeri? Belum tentu! Karena sebenarnya banyak brand-brand terkenal dari luar negeri sebenarnya produksinya ada di Indonesia. Sehingga sebenarnya produk kita tidak kalah bersaing dalam kualitas dengan produk dari luar. Hanya sekarang tinggal bagaimana masyarakat semakin sadar untuk membeli produk-produk dalam negeri, produk-produk UMKM.

Saat masyarakat semakin sadar untuk membela dan membeli produk-produk yang dihasilkan UMKM, kita tidak perlu takut lagi akan serbuan produk-produk dari negara Asean lainnya. Apapun produknya dimanapun belinya, hanya satu buatan UMKM Indonesia.

INGAT, Kalau Bukan Kita Siapa Lagi! BELA+BELI PRODUK UMKM.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar