Jual Produk Lebih Mahal dengan Branding Produk

Imam syafi’i Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai branding yang dapat ada baca di sini. Kalau saja dijual murah produk kita tidak akan mampu bersaing dengan produk Negara tetangga, maka satu-satunya langkah adalah jual mahal. Maksudnya, pilih strategi pemasaran produk dengan menjual di atas harga produk-produk murah. Lah kemaren dibilang, kalau murah saja tetap tidak akan mampu bersaing kok sekarang mau dijual lebih mahal? Gimana caranya? Siapa yang mau membeli?
Menjaul Produk Lebih Mahal Dengan Membangun Branding Produk
Branding jawabannya. Dengan membangun branding produk yang kuat kita dapat menjaul produk lebih mahal dibandingkan dengan harga biasanya. Jangan kawatirkan akan siapa pembelinya. Masyarakat konsumen di Indonesia semakin hari semakin cerdas dan selektif dalam memilih suatu produk. Kalau pun masih banyak yang di golongan konsumen yang berorientasi harga murah, bisa jadi konsumen-konsumen ini masuk dalam generasi lama. Seiring dengan berjalannya waktu, konsumen akan semakin sadar akan pilihannya terhadap suatu produk. Apa lagi arus informasi saat ini sangat deras sekali, mungkin ini juga yang akan mempengaruhi keputusan mereka dalam membeli suatu produk. Ada harga ada rupa, dewasa ini sudah bukan lagi pernyataan yang aneh di dengar. Dengan begitu tak perlu khawatir lagi akan siapa yang akan menggunakan produk kita.
Tentunya, konsumen akan mau membayar suatu produk dengan harga mahal dilandasi dengan banyak pertimbangan. Kualitas sudah barang tentu menjadi pertimbanga utamanya. Selain kualitas produk, masih ada satu hal yang masuk dalam katagori pertimbangan utama, adalah branding produk.
Dewasa ini anak muda begitu menggandrungi salah satu brand distro ternama seperti WOLES, Piter Says Denim, atau juga Vans. Para ibu-ibu pejabat akan mampir belanja tas ke Dowa atau ke Gendis jika mereka ke Jogja. Atau wanita sosialita akan cenderung memilih produk-produk dengan merek internasional yang nota bane kesemua produk tersebut merupakan produk dalam katagori sangat mahal. Namun nyatanya mereka mampu membelinya dan dengan bangga memamerkannya ke orang lain.
Atau tatkala rumah makan sate kambing/sate klatak di kabupaten Bantul, DI Yogyakarta yang nota bane cukup jauh dari kota Jogja ini selalu ramai di kunjungi orang. Bahkan setiap weekendnya banyak kendaraan berplat nomor luar DI Yogyakarta banyak parkir di sana. Bahkan parahnya antrian order bisa jadi dua jam menunggu. Lama, namun sate klatak pak PONG tidak pernah sepi pengunjung.
Begitulah branding bekerja pada sebuah produk. Tatkala sebuah produk mampu membangun brandnya dengan baik, bukan masalah dijual di harga berapa, bukan masalah ada di mana dia berada, pasti akan dicari banyak orang. Dan inilah usulan strategi yang paling tepat ketika kita berbica mengenai perdagangan bebas, ngomong tentang masyarakat ekonomi Asean. Bukan lagi bersaing di harga murah, sudah pasti UKM kita akan keok. Namun pakailah strategi branding produk. Seberapa besar pun kepungan produk murah, maka produk UKM tetap eksis dengan pasar tersendiri.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar