Tips Jitu Membangun Personal Branding

Oleh:
Imam Syafi'i
Konsultan Branding

Sebelum Anda membaca tulisan ini, sebelumnya saya ingin bersepakat dulu dengan Anda bahwa Branding adalah milik Anda, milik siapa saja yang ingin membangunnya. Kesepakatan ke dua yang harus Anda setujui adalah Branding letaknya ada di orang lain, di pemirsa yang anda tuju! Jika ditarik benang merahnya artinya adalah Branding itu milik Kita, milik Saya, milik Anda, namun letaknya ada di orang lain. Ada di benak orang lain. Jika anda sudah bersepakat tentang kedua hal tersebut maka silahkan meneruskan membaca tulisan saya ini. Jika belum, maka sebaiknya Anda mengiyakan saja lalu melanjutkan membaca tulisan saya ini :D.

Masih terkait hal di atas, bahwa branding adalah milik kita namun letaknya ada di orang lain, maka mau tidak mau bagi siapa saja yang hendak membangun branding sudah selayaknya menempatkan diri di posisi orang lain. Maksudnya begini, misalnya bapak A ingin membangun branding bahwa beliau adalah ahli marketing, maka bapak A harus menempatkan diri menjadi khalayak atau audiens branding itu terlebih dahulu. Tujuannya tidak lain adalah untuk melihat kira-kira bagaimana orang lain/ khalayak/ audien dapat menerima si bapak A sebagai ahli marketing? Lantas apa saja kira-kira yang harus dilakukan si bapak A untuk membangun branding sebagai ahli marketing? Apa saja yang harus disiapkan? Tools apa saja yang harus dipakai?

Namun sebelum kita melangkah lebih jauh ke sana, ada hal yang paling urgent yang harus dituntaskan di awal ketika kita ingin membangun personal branding. Apa itu? Menentukan konsen dari personal branding yang akan dibangun. Siapa sebenarnya kita? Mau seperti apa kita dipersepsikan orang lain? Branding seperti apa yang mau kita bangun?

Sebelumnya saya telah menangani beberapa klien yang ingin membangun personal branding. Namun ketika saya tanyakan 'bapak/ibu mau dibranding sebagai siapa? Sebagai apa?'. Mereka bingung menjawabnya. Mereka menuturkan ke saya bahwa semua disiplin kemampuan dikuasainya, apa saja bisa dikerjakan oleh klien tersebut.

Secara kapasitas sebenarnya sah-sah saja kita menguasai banyak kompetensi, tidak ada yang melarang! Namun hal ini akan menjadi bias tak kala kita berbicara dalam branding. Branding seperti apa yang sebenarnya hendak kita bangun? Mau diterjemahkan sebagai siapa sebenarnya kita dalam branding? Untuk itulah akan sangat mudah ketika kita bisa memilih konsen keahlian yang akan kita bangun brandingnya. Di sisi lain, spesifik dalam memilih branding memungkinkan kita dapat memperbesar peluang keberhasilan dalam membangun personal branding.

Untuk mengetahui keahlian atau konsen apa yang akan kita bangun dalam personal branding kita bisa mengunakan tools DNA. DNA atau kepanjangan dari Drivers, Nambers, dan Activities. Dengan tools ini kita akan dapat melihat siapa sih sebenarnya kita? Branding seperti apa yang paling tepat kita pilih dan akan kita bangun? Tools DNA akan saya bahas di artikel tersendiri.

Setelah kita menemukan DNA kita, tahap selanjutnya adalah memetakan siapa saja target audiens yang hendak kita sasar. Bagaimana karakteristik mereka? Media apa saja yang sering mereka gunakan? Bacaan seperti apa yang sebenarnya mereka sukai untuk dibaca. Intinya di sini adalah kita memetakan siapa sasaran audien yang hendak kita sasar dalam membangun personal branding.

Fungsinya kita mengetahui karakteristik audiens adalah sebagai bahan kita merumuskan strategi branding yang akan kita gunakan. Strategi seperti apa yang paling tepat yang bisa kita gunakan untuk menyasar target audiens. Selain itu, jika kita menggunakan media untuk membangun branding, maka media apa yang paling tepat digunakan untuk menyasar audiens. Dalam memilih media pun kita harus mengetahui karakteristik sebuah media digunakan untuk apa. Media sosial contohnya, antara penggunaan facebook dan twitter sudah berbeda. Antara Instagram dan G+ juga memiliki karakteristik yang berbeda. Sehingga sangat penting memahami bagaimana penggunaan media dalam membangun personal branding.

Tahap terahir yang paling menentukan berhasil atau tidaknya saat kita membangun personal branding adalah fokus dan konsisten. Membangun branding harus fokus. Tatkala kita sudah menemukan DNA yang ingin dibranding maka dalam setiap strategi dan media yang digunakan dalam membangun branding kita harus fokus mengulas apa yang sedang kita branding. Jika si bapak A tadi ingin membranding diri sebagai ahli marketing maka beliau harus fokus membicarakan semua tentang marketing dalam setiap media yang digunakan.

Setelah fokus dalam mengisi kontent dalam strategi dan media branding, langkah berikutnya adalah harus konsistent. Membangun personal branding bukan perkara yang gambang, butuh proses dan waktu. Tidak sedikit yang gagal membangun personal branding karena tidak sabar dalam menjalankan proses branding. Dibutuhkan konsistensi dalam mengisi kontent di setiap strategi branding yang digunakan. Dibutuhkan konsistensi dalam mengisi kontent yang sesuai di setiap media branding yang digunakan. Lakukan terus menerus sampai di benak audien benar-benar tertanam apa yang sedang kita branding.

Semoga bermanfaat. Salam

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar