Mie Ayam Pak Wiyono, Mie Ayam Masa Lalu Rasa Perjuangan

Bagi yang pernah menempuh pendidikan di Jogja terutama di sekitaran kampus yang dinamai dengan salah satu nama patih besar pada masa jayanya kerajaan Majapahit ini tentu akan mengenal salah satu kuliner yang begitu lekat di lidah ini. Terlebih lagi jika selama di kota gudeg ini memilih berinduk semang di daerah barat selatan kampus tersebut.

Ya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jogja rasa mie ayam ini begitu lekat di lidah saya. Artinya sudah hampir 13 tahun jika dihitung dari pertama kali masuk Jogja yang pada saat itu tahun 2004. Saya ingat betul karena memang pada saat itu bersamaan dengan berlangsungnya pemilihan presiden yang memenangkan pak SBY, dimana saat itu bapak harus tidak ikut memilih karena memilih mengantar saya berangkat ke Jogja.

Adalah Mie Ayam Pak Wiyono, belasan tahun tidak mengalami perubahan rasa. Mungkin inilah yang menyebabkan banyak pembelajar yang datang dari berbagai daerah seperti saya ini selalu ingin kembali menikmatinya. Dan saya pikir banyak yang setuju dengan pendapat saya ini, terutama bagi mereka yang salama masa pendidikannya pernah merasakan mie ayam ini.


Tunggu sebentar, bisa jadi pendapat saya tersebut tidak seratus persen benar. Ya benar, bukan hanya dari rasanya setelah saya pikir ulang. Lebih dari sekedar rasa yang membuat mie ayam ini begitu melekat di lidah saya atau penikmat lainnya. Lantas dari apanya?

Saat memasuki kawasan Sendowo dimana pak Wiyono membuka kedai Mie Ayam-nya maka ingatan saya dibawa kembali pada masa belasan tahun silam. Dimana di daerah inilah dulu saya numpang berteduh dari teriknya matahari dan dinginnya malam. Pertama kali memasuki daerah ini saya menumpang menginap di Masjid Al Mustaqim Sendowo selama berbulan-bulan. Ya, saya pernah bantu-bantu takmir masjid sebelum saya pindah ke kamar kosan. Saat ini masjid tersebut beralih fungsi jadi mushola karena pembangunan masjid baru.

Setelah lulus dari masjid saya melanjutkan dengan sewa kamar mash di sekitar masjid Al Mustaqim. Berpindah-pindah dari kamar satu ke kamar lainnya namun yang paling lama adalah menempati kamar kosan di bantaran kali Code. Lekat di ingatan saya bahwa kosan tersebutlah yang paling murah diantara kamar-kamar kosan lainnya yang pernah saya tiduri.


Terasa benar perjuangan antara mempertahankan idealisme meneruskan belajar sama rasa ngilu yang teramat berat saat Ibunda yang saat itu di kampung halaman di Lampung sana tutup usia. Ingat betul rasanya mendengar kabar kepergian ibunda, saya menangis sepanjang jalan dari sekolah dimana kongres Budi Utomo digelar pertama kali, menyusuri bantaran Code sampai ke kosan. Tidak, tidak hanya sampai kosan, selama perjalaan saya pulang ke kampung halaman dan balik lagi ke Jogja air mata saya tidak berhenti mengalir. Saat itu saya ingin benar-benar berhenti!

Rupanya Tuhan berkata lain, sayap-sayap penyemangat dari berbagai arah dikepakan ke arah saya hingga menyadarkan bahwa saya masih punya dua kaki untuk menopang raga ini. Mengingatkan bahwa saya punya dua tangan untuk terus berupaya bertahan, Sampai menang. Dan di daerah Mie Ayam Pak Wiyono inilah semua itu saya alami dan rasakan.

Tentu tak berlebihan jika saya bilang bahwa Mie Ayam Pak Wiyono Sendowo ini adalah Mie Ayam Masa Lalu Rasa Perjuangan.

Terimakasih Sudah Berkunjung

Share This Post

Comments

    Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar